Categories
Parenting

Tips Mengasuh Anak untuk Ibu Baru (Part 1)

Menjadi Ibu itu susah-susah gampang, apalagi jika sudah menyangkut masalah mengasuh anak. Iya, kan, Mak? Pada awalnya, saat anak pertama kita melakukan berbagai hal pertamanya memang terasa begitu luar biasa. Apalagi jika Anda termasuk seorang Ibu yang menyaksikan secara langsung tumbuh kembang mereka dari setiap tahapan usianya. Mereka sangat cerdas, Mak. Dan hebatnya lagi mereka membuat kita belajar banyak terutama tentang bagaimana menghadapi mereka.

Baca juga: 3 Cara Mendidik Anak Yang Baik Sejak Dalam Kandungan

tips mengasuh anak
Kredit: hellofam.com

Ada beberapa tips yang akan sangat bermanfaat dalam mengasuh anak, khususnya untuk Ibu-Ibu baru, mungkin Anda salah satunya. Ibu yang baru memiliki seorang anak dan membuat pengalaman mengasuh anak menjadi pengalaman pertama yang baru Anda dapatkan seumur hidup Anda. Karena akan terasa bedanya ketika Anda mengasuh adik, keponakan dengan anak sendiri. Anak yang tiada lain adalah darah daging Anda dan suami. Buah hati Anda dan pasangan Anda. Ini diat tips nya, Mak.

Nikmati

Jangan takut ketika Akhirnya Anda menjadi seorang Ibu. Anak adalah anugerah dan Anda dan suami adalah pasangan yang terpilih untuk diberi amanah tersebut. Itulah sebabnya mengasuh anak tentu menjadi sebuah ibadah jika kita lakukan dengan tulus. Tidak hanya karena kita menyayangi buah hati kita semata, tapi karena kita berusaha untuk mendidik mereka sebaik mungkin untuk menjadi anak yang shaleh dan shalehah.

Dalam perjalanan Anda menjalani tugas mengasuh ini, tentu tidak akan berjalan mulus-mulus saja. Anda harus bergelut dengan bagaimana terbiasa untuk melakukan berbagai hal serba cepat. Juga untuk selalu menempatkan kepentingan anak-anak dalam banyak hal. Bahkan ketika Anda sedang makan, Anda harus siap untuk berhenti sejenak dan membantu buah hati membersihkan kotorannya. Semuanya bisa Anda hadapi jika Anda mencoba untuk menikmati tidak hanya kesenangannya tapi juga berbagai kesusahannya.

Jangan Berhenti Belajar

Jika semua orang tua sudah merasa pandai dalam mengasuh anak sedari dulu maka sudah tentu tidak akan ada generasi yang terjebak dalam masalah narkoba, pergaulan bebas, kenakalan remaja, LGBT, dan berbagai perilaku lain yang menyimpang dari norma dan aturan yang ada. Sebagian besar awal penyebabnya ternyata berasal dari rumah. Itu berarti terdapat peran orang tua, terutama Ibu yang membuat anak-anak mereka menjadi salah jalan. Anda tentu tidak ingin menjadi pihak yang disalahkan jika hal tersebut terjadi bukan?

Itulah sebabnya jangan pernah berhenti belajar untuk bisa menjadi orang tua yang lebih baik. Belajar untuk memberikan didikan yang baik dan tepat untuk anak kita. Terutama agar mereka bisa menjadi generasi penerus bangsa yang akan membawa bangsa ini pada kesuksesan. Tentu dengan akhlak yang baik, otak yang cerdas, rasa percaya diri yang tinggi, dan berbagai karakter positif lainnya yang menjadi dambaan hampir semua orang tua.

Bertanyalah Kepada Ahlinya

Sudah lumrah ketika didikan yang kita dapatkan dari orang tua kita secara sadar atau tidak kita terapkan juga pada anak kita. Hal ini sebetulnya tidak ada salahnya selama memang masih bisa diterapkan pada anak kita. Tapi zaman berubah, Mak. Semua tentu sudah tidak sama lagi. Terutama menyangkut berbagai gempuran yang dapat menyerang anak kita jika dibandingkan dengan ketika kita kecil dulu. Apa yang kita dapati dulu belum tentu menjadi metode parenting yang efektif untuk anak-anak kita yang lahir pada abad ini.

Itulah sebabnya ketika kita merasa kesulitan dalam hal menerapkan pola pengasuhan pada anak kita maka sebaiknya bertanyalah pada ahlinya. Para pakar yang memang sudah memiliki banyak pengalaman dan juga banyak mempelajari bahkan melakukan berbagai penelitian tentang pengasuhan atau parenting ini. Mengenai bagaimana mengasuh anak yang baik dan benar, terutama dalam menghadapi kesulitan yang kita alami dalam mengasuh buah hati kita dengan karakternya yang berbeda dengan yang lainnya.

Bersambung….

Baca juga berbagai informasi tentang Parenting lainnya di sini.

Categories
Parenting

8 Kesalahan Kecil Orangtua Yang Membahayakan Untuk Anak (Part 1)

parent

Mengasuh dan mendidik anak bukanlah perkara mudah ya Mak. Selama prosesnya seringkali banyak orangtua yang kehilangan kendali, tidak mampu menjaga emosi atau bahkan akhirnya membebaskan anak dan memenuhi segala permintaan anak karena malas bernegosiasi. Mendidik anak tentu lebih berat ketimbang hanya membesarkannya. Karena dalam proses mendidik itulah, kita sebagai orangtua sedang berupaya menginstall atau memasukkan nilai-nilai ke dalam diri anak. Nilai itu bisa positif , bisa juga negatif tergantung pola asuh seperti apa yang dipilih orangtua.

Tidak sedikit, kita juga melakukan kesalahan-kesalahan yang seringkali tidak disadari bisa membahayakan bagi perkembangan anak terutama dalam hal perkembangan psikisnya. Dampak yang dimaksud memang tidak akan langsung terlihat, sehingga orangtua sering menganggapnya sepele. Itu baru akan terasa dan terlihat efeknya dalam beberapa waktu kemudian, setelah terbentuk menjadi karakter anak.

Pada artikel kali ini, saya ingin membahas secara ringkas 8 kesalahan kecil orangtua yang membahayakan untuk anak. Dengan harapan tentu kita tidak lagi mengulangi kesalahan yang sama demi pertumbuhan dan perkembangan anak yang baik.

Kesalahan pertama : Terbiasa Berbohong

” Ayo Dek makannya dihabiskan ya… Nanti kalo habis kita pergi jalan-jalan lho”

” Sayang, Mama pergi kerja dulu ya. Jangan nangis !! Kalo ga nangis, pulang kerja mama belikan mainan”

Pernah berbicara seperti  itu pada si kecil?

Apakah Mak benar-benar mematuhi apa yang dijanjikan ? Apakah Mak benar-benar ajak jalan-jalan si kecil setelah ia menghabiskan sepiring besar makanannya? Bagus, jika Mak memenuhi janji. Tapi bisa bahaya, jika tidak.

Terbiasa berbohong adalah kesalahan sekaligus kebiasaan yang paling sering dilakukan orangtua. Terutama untuk membujuk anak agar ia patuh dan taat pada apa yang kita inginkan. Pada awalnya mungkin anak akan patuh, namun lama kelamaan ia tidak lagi akan patuh dan mengabaikan apa yang Mak perintahkan.

Kenapa? karena anak kehilangan rasa percaya pada orangtuanya. Jadi Mak, kepatuhan anak akan hilang seiring dengan hilangnya rasa percaya karena sering dibohongi. Buah hati kita akan merasa kecewa dan terluka saat orangtuanya berbohong, secara tidak disadari hal itu akan terekam dalam memori bawah sadarnya bahwa kebohongan bukanlah hal yang dilarang karena orangtua nya pun sering berbohong.

Oleh karena itu, jika Mak merasa heran kenapa anak tidak lagi penurut, sering membantah dan sulit diatur , maka yang harus dilakukan adalah lakukan introspeksi diri. Mungkin Mak secara tidak sadar sering berbohong kepada anak, yang membuatnya tidak lagi menaruh kepercayaan.

Jadi, hindari berbohong ya Mak.  Berkatalah jujur dalam setiap hal, ungkapkan dengan kasih sayang kepada anak agar ia bisa mengerti dan memahami. Saat berjanji, usahakan untuk menepatinya, jika belum mampu menepati katakan kepada anak apa alasannya.

Kesalahan kedua : Tidak Konsisten

Kesalahan berikutnya yang seringkali dianggap sepele oleh orangtua adalah tidak konsisten. Orangtua sering tidak konsisten dalam banyak hal, misal tidak konsisten menjalankan aturan, tidak konsisten terhadap kesepakatan, tidak konsisten terhadap hadiah dan hukuman kepada anak.

Konsisten juga merupakan salah satu kunci tumbuhnya kepercayaan anak kepada orangtua, karena sangat erat hubungannya dengan kejujuran. Orangtua yang konsisten akan dilihat oleh anak sebagai orangtua yang jujur. Misalnya dalam hal penerapan hadiah dan hukuman. Orangtua sering menjanjikan sesuatu saat anak mengikuti apa yang diperintahkan atau diharapkan orangtua, misalnya “Dek, kalau nanti ujian dapat nilai 100 Mama belikan buku baru ya”. Nah, saat hasil ujian anak mendapatkan nilai 100, maka Mak harus benar-benar menepati janji untuk membelikan buku baru. Jika tidak, maka anak akan melihat Mak sebagai ibu yang pembohong sekaligus tidak konsisten.

Tidak hanya dalam masalah pemberian hadiah, konsitensi orangtua juga diuji saat memberikan hukuman ketika anak melakukan kesalahan. Biasanya orangtua akan menunda atau bahkan membatalkan hukuman saat anaknya kembali bersikap baik, setelah sebelumnya melakukan kesalahan. Jika orangtua tidak konsisten, anak akan menganggap bahwa hukuman hanyalah gertak sambal saja, karena toh saat ia melakukan kesalahan orangtua tidak memberikan hukuman apapun.

Konsistensi mutlak dimiliki orangtua, baik Ayah ataupun Ibu. Jangan sampai pada prakteknya ada ketidakkompakan. Misal saat anak melakukan kesalahan Ayah taat pada aturan yang disepakati dan memberikan hukuman, tapi karena merasa kasihan Mak malah membebaskan anak dari hukuman. Hal-hal remeh semacam ini, tidak boleh terjadi ya Mak. Di depan anak, orangtua harus tetap kompak pada setiap aturan yang dibuat dalam hal mendidik anak.

Pada bagian ini kita bahas 2 kesalahan dulu ya Mak, nantikan kelanjutan kesalahan-kesalahan orantua dalam mendidik anak di bagian selanjutnya ya.