Categories
Rumah Tangga

Popok Kain Vs Popok Sekali Pakai, Pilih Mana?

http://www.woombie.com/
http://www.woombie.com/

Hidup di era modern seperti saat ini, segala sesuatunya berkembang dan berubah dengan sangat cepat. Beragam inovasi tercipta bertujuan untuk mempermudah hidup manusia dalam berbagai aspek kehidupan. Salah satu inovasi yang hangat diperbincangkan beberapa tahun ke belakang adalah masalah penggunaan popok kain modern atau yang lebih dikenal dengan sebutan Clodi sebagai singkatan dari Cloth Diaper.

Apa itu Clodi?

Clodi atau popok kain memang bukanlah barang baru dalam daftar kebutuhan anak, karena sebetulnya berpuluh-puluh tahun yang lalu orangtua kita juga sudah menggunakannya dalam bentuk yang lebih sederhana. Clodi memang disempurnakan dan disesuaikan dengan kebutuhan hidup modern saat ini, misalnya clodi didesain mampu menahan cairan hingga 3-4 kali tanpa kahawatir tembus karena memang sudah diberikan lapisan anti bocor.

Clodi terdiri dari 2 bagian, pertama cover yaitu bagian luar atau pembungkusnya, dan kedua insert yaitu bagian penyerap urine yang bisa dimasukkan ke dalam bagian dalam cover atau diletakkan diatas cover.

Plus Minus Popok Kain vs Popok Sekali Pakai

Sebelum menentukan apakah Mak akan memilih popok kain atau popok sekali pakai untuk si kecil sebaiknya pertimbangkan 3 hal berikut ini ya…

  1. Segi ekonomis

Berbicara soal ekonomis, tergantung darimana kita melihatnya. Jika dilihat dari lama pemakaian, popok kain tentu lebih ekonomis karena bisa dicuci pakai berulang kali bahkan jika perawatannya dilakukan dengan benar bisa jadi harta warisan untuk adiknya nanti. Tapi sayangnya, harga popok kain memang cukup mahal jadi akan sangat terasa di awal pembelanjaan.

Misalnya untuk 1 set popok kain lokal kisaran harganya Rp. 80.000. Kalau Mak mau si kecil pake popok seharian setidaknya Mak harus punya 12 set popok kain. Artinya di awal pembelian mak harus menyiapkan uang Rp. 80.000 x 12 = Rp.960.000. Tapi kabar bahagianya, Mak gak perlu merogoh kocek lagi untuk beli popok setidaknya untuk satu tahun.

Sedangkan penggunaan popok sekali pakai dianggap lebih “ekonomis”, karena dibeli dengan cara dicicil. Misalnya per pekan anggaran beli popok Rp. 50.000 x 48 minggu = Rp.2.400.000. Meskipun dari hitungan sederhana pembelian popok sekali pakai lebih boros, namun tidak terasa secara langsung karena pembelian popok sedikit demi sedikit tiap pekannya.

  1. Segi Kepraktisan

Banyak Mak yang akhirnya menyerah menggunakan popok kain karena menganggap ribet dan repot belum lagi harus cuci bersih popok setiap hari. Berbeda dengan popok sekali pakai, selesai pakai cukup langsung buang ke tempat sampah tanpa repot membersihkan. Padahal sebetulnya mencuci popok kain tidak serumit yang dibayangkan, cukup rendam popok kain kotor dengan sedikit detergen atau sabun pencuci piring, bilas sampai bersih dan keringkan.

  1. Isu Kesehatan Lingkungan Hidup

Salah satu alasan mengapa popok kain kembali menjadi tren di kalangan orangtua  di berbagai belahan dunia, karena alasan yang sama yaitu keprihatinan mengenai semakin tercemarnya bumi dengan berbagai jenis sampah. Sampah popok sekali pakai adalah salah satu jenis sampah yang paling banyak mencemari lingkungan.

Sampah popok ini sangat sulit untuk diurai oleh alam, setidaknya butuh waktu 250-500 tahun untuk mengurainya. Jika satu rumah menghasilkan sampah popok 6 buah per hari, maka dalam satu tahun jumlahnya menjadi 2190. Jika dikalikan dengan jutaan pemakai maka sudah tidak terhitung lagi berapa banyak sampah popok yang menumpuk.

  1. Segi Kesehatan

Alasan yang paling dikemukakan orangtua yang beralih menggunakan popok kain untuk buah hatinya adalah masalah kesehatan. Dalam laporan yang dirilis oleh Real Diaper Association, Amerika Serikat dikemukakan bahwa dalam popok sekali pakai setidaknya mengandung 3 zat berbahaya yakni dioxin, Trybutyl-tin (TBT) dan sodium polyacrylate yang berbahaya bagi kesehatan si kecil.

Namun penggunaan popok sekali pakai bukan sama sekali terbebas dari masalah kesehatan. Ruam adalah salah satu masalah kesehatan yang mungkin akan muncul selama penggunaan popok kain, jika perawatan tidak dilakukan dengan benar. Pemilihan jenis detergen, proses pencucian, hingga pembilasan yang benar menjadi faktor penentu apakah ada ruam yang muncul atau tidak selama penggunaan popok kain. Selain itu, karena daya serap popok kain berkisar antar 4-5 jam maka sangat dianjurkan untuk segera melakukan pergantian jika terasa popok sudah berat dan basah.

 

Nah itulah Mak ulasan ringkas tentang perbandingan antara popok kain modern dengan popok sekali pakai. Pada akhirnya semua keputusan ada di tangan Mak dan pasangan untuk memilih apakah akan menggunakan popok kain atau popok sekali pakai dengan pertimbangan plus minus seperti yang sudah dipaparkan diatas. Semoga bermanfaat ya.

 

 

Categories
Kesehatan & Kecantikan

Ibu Menyusui Boleh Minum Kopi Asalkan…

Ibu menyusui boleh minum kopi asalkan… Saya rela memenuhi apapun syaratnya demi bisa minum secangkir saja kopi. Lalu bagaimana cara minum kopi yang aman untuk ibu menyusui? Pertanyaan ini kerap melanda batin saya karena hanya kopi yang dapat membuat saya terjaga ketika rasa kantuk hadir di sela-sela bekerja, terutama di malam hari.

busui ngopi
dailymail.co.uk

Mungkin ini tidak hanya saya rasakan tapi juga Anda Mak, bahkan beratus-ratus ibu menyusui lain yang memiliki hubungan yang spesial dengan si hitam ini. Kini saya bisa berlega hati karena nyatanya ibu menyusui masih boleh minum kopi. Namun ada syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi sebagai berikut:

Tidak Berlebihan

Segala sesuatu yang berlebihan memang tidak pernah menghasilkan efek yang baik bagi tubuh. Begitupun halnya dengan kopi yang dipercaya tidak hanya memiliki banyak khasiat tapi juga efek samping. Pada Ibu menyusui efeknya ketika minum kopi berlebihan yaitu bayinya sering demam, bayi sering terjaga dan hanya tidur sebentar-sebentar, matanya selalu terbuka, terlihat lemah dan seringkali rewel. Untuk itu batasi hingga 2 gelas paling banyak dalam sehari. Jika secangkir kopi sudah cukup itu lebih baik lagi.

Tidak Disertai Sumber Kafein Lain

Ingat Mak, kafein faktanya tidak hanya terdapat pada kopi saja yang seringkali membuat kopi selalu menjadi tersangka utama ketika bayi mengalami gejala-gejala yang telah disebutkan tersebut. Ada berbagai makanan dan minuman lain yang mengandung kafein. Diantaranya minuman bersoda, obat pereda demam, minuman penambah energi, teh dan cokelat. Sebaiknya jangan mengkonsumsi kopi dengan makanan atau minuman lain yang mengandung kafein, apalagi jika bersamaan. Akibatnya kafein tersebut bisa terakumulasi dan akhirnya mempengaruhi ASI yang Anda berikan pada buah hati Anda.

Jika Bayi Sudah 4 Bulan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan seorang Dokter dari Departemen Pedriatrics Universityof Rochester di New York, Amerika Serikat menyatakan bahwa metabolisme bayi baru dikatakan siap ketika usia mereka sudah mencapai 3 hingga 4 bulan. Itulah sebabnya jika Anda sangat ingin minum kopi sebaiknya tunggu hingga bayi berusia 3 hingga 4 bulan. Jika Anda bisa lebih sabar lagi, tunggu hingga usianya 6 bulan dan melewati masa pemberian ASI ekskllusif.

Imbangi dengan Memperbanyak Minum Air Putih

Sebagai penyeimbang agar efek kafein tidak terlalu berpengaruh pada ASI yang Anda berikan pada buah hati, sebaiknya ibu menyusui yang penggemar berat kopi memperbanyak air minum lebih dari biasanya. Terutama ketika ia sudah atau berencana akan meminum kopi pada hari tesebut. Dengan begitu, efek kafein juga tidak dirasakan oleh bayi yang Anda susui.

Perbanyak Konsumsi Buah dan Sayuran Hijau

Buah dan sayuran hijau selain mengandung banyak vitamin, zat besi, juga mengandung antioksidan. Memperbanyak mengonsumsinya berarti membantu tubuh mendapatkan gizi yang seimbang. Hasilnya kualitas ASI dapat dipertahankan walaupun Anda minum kopi. Bayi juga lebih tahan terhadap efek dari kafein yang terbawa pada ASI yang mereka minum.

Nah, sudah tenang kan sekarang? Jadi minum kopi untuk ibu menyusui tidaklah haram hukumnya. Ibu menyusui boleh minum kopi asalkan ia memenuhi syarat-syarat minum kopi yang aman untuk ibu menyusui ini. Ingat ya Mak, kafein tidak hanya terdapat pada kopi saja. Tetap waspadai makanan dan minuman lain yang juga mengandung kafein. Jangan sampai Anda anti kopi tapi justru tidak berhenti makan cokelat, minum teh setiap kali minum, minuman bersoda, minum obat penghilang demam, dll.