Categories
Uncategorized

Hal yang Membatalkan Wudhu Menurut 4 Madzhab (Part 3)

Masih sering bingung mengenai perkara penyebab batalnya wudhu, Mak? Yuk, kita kaji bersama apa saja hal yang membatalkan wudhu menurut 4 madzhab. Ini karena ketentuan setiap madzhab dalam menetapkan perkara yang membatalkan wudhu sedikit berbeda. Perkara batalnya wudhu yang akan dibahas kali ini adalah pendapat Madzhab Syafi’i.

Baca juga: Ramadhan Sebentar Lagi, Yuk Siapkan Diri!

yang membatalkan wudhu menurut 4 madzhab
Kredit: prayerinislam.com

Adanya perbedaan ini disebabkan tidak adanya dalil yang menjelaskan secara mendetail tetang penyebab batalnya wudhu. Oleh karena itu, para ulama berijtihad berdasarkan hadits-hadits dan ayat Al-Qur’an. Sebagai orang awam, sebaiknya kita mengikuti salah satu ijtihad para ulama dari 4 madzhab tersebut sesuai dengan yang kita yakini.

Pendapat Syafi’i Maliki Mengenai Hal yang Membatalkan Wudhu

Imam Syafi’i membagi penyebab batalnya wudhu seseorang menjadi 4 perkara. Empat perkara tersebut adalah sebagai berikut.

1.  Keluarnya sesuatu melewati satu dari dua jalan

Segala sesuatu yang keluar melalui salah satu jalan keluarnya najis (qubul dan dubur) merupakan penyebab batalnya wudhu seseorang. Akan tetapi, menurut Imam Syafi’i, air mani yang keluar dari tubuhnya sendiri (bukan air mani yang menempel) bukan penyebab batalnya wudhu. Ini karena jika seseorang mengeluarkan air mani maka dia wajib mandi. Air mani adalah air yang memancar keluar dari kemaluan, biasanya pada saat berhubungan intim.

2.  Hilang akal

Hilang akal merupakan salah satu penyebab wudhu seseorang batal. Hilang akal di sini dapat disebabkan oleh pingsan, gila, atau tidur. Namun, tidur yang dilakukan dalam posisi duduk tidak membatalkan wudhu.

3.  Bertemunya dua kemaluan antara laki-laki dan perempuan

Penyebab lain batalnya wudhu seseorang adalah bertemunya dua kemaluan laki-laki dan perempuan. Baik yang terjadi secara disengaja ataupun tidak.

4.  Menyentuh kemaluan

Hal terakhir yang membatalkan wudhu adalah menyentuh kemaluan dengan telapak tangan.

Itulah hal-hal yang membatalkan wudhu menurut Madzhab Syafi’i. Semoga bermanfaat.

Baca juga: 

Categories
Uncategorized

Hal yang Membatalkan Wudhu Menurut 4 Madzhab (Part 2)

Pada artikel sebelumnya, telah dibahas hal apa saja yang membatalkan wudhu menurut Madzhab Hanafi. Lalu, bagaimana dengan pendapat Madzhab lainnya? Kali ini, akan dibahas mengenai penyebab batalnya wudhu menurut Madzhab Maliki.

yang membatalkan wudhu
Kredit: storage.googleapis.com

Apa saja hal-hal yang dapat menyebabkan wudhu seseorang menjadi batal menurut Imam Malik? Yuk, simak saja uraian berikut.

Pendapat Madzhab Maliki Mengenai Hal yang Membatalkan Wudhu

Imam Malik membagi penyebab batalnya wudhu menjadi 3 garis besar. Tiga garis besar tersebut adalah ahdats, asbaab, dan ar- riddah wa asy-syak. Berikut ini penjelasannya.

1.  Al- Ahdats

Ahdats yaitu apapun yang dapat keluar dari dubur (lubang bagian belakang) dan qubul (kemaluan) adalah najis. Misalnya:

  • Kotoan
  • Air seni
  • Angin (baik yang disertai dengan suara ataupun tidak)
  • Wadi (air putih kental yang keluar ketika buang air kecil)
  • Madzi (air yang keluar dari kemaluan karena syahwat)
  • Mani (air yang memancar keluar dari kemaluan, biasanya pada saat berhubungan intim)
  • Hadi (air yang keluar dari kemaluan seorang wanita pada saat melahirkan)
  • Darah istihadhoh (darah yang keluar secara terus-menerus di luar darah haid, atau biasa disebut darah karena penyakit)

Apakah jika yang keluar dari dubur dan qubul merupakan sesuatu yang tidak umum dapat membatalkan wudhu juga? Imam Malik berpendapat, jika dari kedua lubang tersebut keluar sesuatu yang tidak umum – seperti cacing, kerikil, darah dan nanah – ini tidak membatalkan wudhu karena bukan merupakan najis.

Baca juga: 3 Cara Mendidik Anak Yang Baik Sejak Dalam Kandungan

2.  Al- Asbab

Dalam pandangan Madzhab Maliki, Al-Asbaab adalah batalnya wudhu seseorang yang disebabkan oleh faktor di luar badan. Al-Asbaab ini dibagi menjadi 3 golongan, di antaranya adalah sebagai berikut.

  • Hilang akal

Hilang akal di sini, dapat disebabkan oleh pingsan, gila, ataupun mabuk yang disebabkan mengkonsumsi minuman keras.

  • Menyentuh kemaluan

Menyentuh kemaluan dengan menggunakan telapak tangan atau ibu jari yang disertai dengan syahwat dan tanpa menggunakan alas menyebabkan wudhu seseorang batal.

  • Berciuman

Berciuman baik yang disertai dengan syahwat atau pun tidak akan membatalkan wudhu.

3.  Ar-Riddah wa Asy-Syak

Imam Malik berpendapat bahwa Ar-Riddah dan Asy-Syak merupakan perkara yang membatalkan wudhu seseorang. Apa yang dimaksud dengan Ar-Riddah dan Asy-Syak?

  • Ar-Riddah adalah orang yang keluar dari Islam (murtad).
  • Asy-Syak adalah munculnya perasaan ragu-ragu pada seseorang apakah ia sedang dalam keadaan berwudhu atau sedang hadats. Jadi, jika Anda merasa ragu-ragu mengenai thaharoh badan Anda, menurut Madzhab Maliki ini diwajibkan untuk wudhu kembali. Hingga Anda merasa yakin.

Jadi, hal-hal itulah yang membatalkan wudhu seseorang menurut Madzhab Maliki. Pendapat Madzhab lain mengenai penyebab batalnya wudhu ini akan dibahas pada artikel selanjutnya. Semoga bermanfaat.

Sumber: rumahfiqih.com

Baca juga: 

Categories
Uncategorized

Hal yang Membatalkan Wudhu Menurut 4 Madzhab (Part 1)

Apa saja sih, hal-hal yang membatalkan wudhu itu? Terkadang, kita merasa ragu apakah makan dapat membatalkan wudu. Apakah bersentuhan dengan lawan jenis juga membatalkan wudu. Ternyata, empat madzhab fiqih memiliki perbedaan pendapat mengenai hal yang membatalkan wudhu tersebut. Ini karena tidak adanya dalil yang pasti mengenai penyebab batalnya wudhu.

Baca juga: Ramadhan Sebentar Lagi, Yuk Siapkan Diri!

hal yang membatalkan wudhu
Kredit: ansar.ru

Pendapat Madzhab Hanafi Mengenai Hal yang Membatalkan Wudhu

Imam Abu Hanifah menjelaskan bahwa penyebab batalnya wudhu seseorang adalah 12 hal berikut.

1.  Semua yang keluar dari qubul dan dubur

seluruh yang keluar dari qubul dan dubur membatalkan wudhu. Baik berupa angin, air seni, kotoran, mani (air yang memancar keluar dari kemaluan, biasanya pada saat berhubungan intim), madzi (air yang keluar dari kemaluan karena syahwat), dan wadi (air putih kental yang keluar ketika buang air kecil). Hal ini disepakati oleh imam empat madzhab.

… atau kembali dari tempat buang air besar. (Q.S. Al-Maidah: 6)

Namun menurut Imam Hanafi, angin yang keluar dari kemaluan bagian depan tidak membatalkan wudhu. Ini karena angin tersebut tidak berasal dari perut.

2.  Wanita yang melahirkan, tetapi hanya mengeluarkan sedikit darah

Menurut Imam Abu Hanifah, wanita yang melahirkan dan hanya mengeluarkan sedikit saja darah, tidak termasuk mengalami nifas. Jadi, dia tidak perlu mandi besar sebelum menjalankan shalat. Cukup berwudhu saja. Kejadian ini di luar kebiasaan wanita pada umumnya.

Baca juga: 3 Cara Mendidik Anak Yang Baik Sejak Dalam Kandungan.

3.  Wanita yang mengalami istihadhoh

Keluarnya darah istihadhoh (darah yang keluar secara terus-menerus di luar darah haid, atau biasa disebut darah karena penyakit) menyebabkan wudhu menjadi batal. Jadi, setiap kali datang waktu shalat, wanita tersebut wajib berwudhu.

4.   Sesuatu yang keluar selain dari qubul dan dubur, misalnya darah dan nanah

Keluarnya aliran darah atau nanah dari luka yang mengalir merupakan najis. Jadi, membatalkan wudhu. Sementara, jika darah atau nanah tersebut tidak mengalir, tidak membatalkan wudhu karena bukan termasuk najis.

… (diwajibkan) berwudhu bagi setiap darah yang mengalir. (HR. Daaruquthni)

5.  Muntah

Imam Hanafi dan Imam Ahmad sepakat bahwa muntah menyebabkan wudhu menjadi batal. Akan tetapi, menurut madzhab Hanafi, ini tergantung pada kadar muntahnya. Jika muntah yang dikeluarkan banyak (memenuhi mulut), maka membatalkan wudhu karena termasuk ke dalam najis. Jika hanya sedikit saja, tidak termasuk najis.

6.   Muntah karena mabuk kendaraan

7.  Darah yang keluar dari mulut seperti air ludah atau sejenisnya

8.  Tidur yang panjang dalam waktu yang cukup lama

Berdasarkan posisinya, Imam Hanafi mengelompokkan tidur ke dalam beberapa macam. Di antaranya, tidur dalam posisi berbaring dan tidur dalam posisi duduk.

Tidur dalam posisi berbaring membatalkan wudhu walaupun dilakukan hanya sekejap saja. Sementara, wudhu orang yang tidur dalam posisi duduk tidak batal.

Tidak wajib berwudhu bagi orang yang tidur dalam keadaan sujud sampai ia berbaring. (HR. Ahmad)

9.  Berubahnya posisi tidur

Tidur sambil duduk tidak membatalkan wudhu. Akan tetapi, jika pada saat tidur tersebut posisinya berubah dari posisi semula sebelum ia benar-benar sadar, maka wudhu orang tersebut batal.

10.  Hilang akal

Hilang akal membatalkan wudhu. Hilang akal ini dapat disebabkan oleh pingsan, gila, mengkonsumsi narkoba ataupun minuman keras.

11.  Tertawa terbahak-bahak

Tidak semua tertawa terbahak-bahak dapat menyebabkan batalnya wudhu. Hanya tertawa terbahak-bahak yang dilakukan dalam shalat di saat rukuk atau sujud saja yang menjadi penyebab batalnya wudhu. Sementara, jika tertawa terbahak-bahak dilakukan di luar shalat, tidak akan membatalkan wudhu. Pun jika tertawa tersebut dilakukan ketika shalat yang tidak terdapat rukuk dan sujud, tidak menjadi penyebab batalnya wudhu.

12.  Menyentuh wanita (lawan jenis) dengan syahwat

Menurut Imam Abu Hanifah, yang dimaksud menyentuh wanita di sini adalah berhubungan badan. Ini jelas membatalkan wudhu.

Nah, jadi itulah hal yang menyebabkan wudhu menurut Madzhab Hanafi. Untuk pendapat Madzhab lain mengenai penyebab batalnya wudhu ini akan dibahas pada artikel selanjutnya. Semoga bermanfaat.

Sumber: rumahfiqih.com

Baca juga: