Categories
Kesehatan & Kecantikan

Tanda dan Gejala Diare Pada Anak, serta Cara Mengatasinya

diare2
tanda dan gejala diare pada anak

Setelah sebelumnya bahas tentang apa saja penyebab diare pada anak ( Baca juga : Mengenal Apa itu Diare Pada Anak), untuk bagian kali ini kita akan bahas apa saja tanda dan gejala serat cara tepat dalam mengatasi diare pada anak. Kunci utama saat menghadapi si kecil tentu yang utama adalah ketenangan dan kesabaran ya Mak. Karena saat Mak bisa tenang, Mak bisa dengan mudah mengenali apa yang sedang terjadi dengan tubuh si kecil dan tepat dalam menanganinya apakah cukup dilakukan perawatan dirumah atau harus segera dibawa ke dokter.

Tanda dan Gejala Diare Pada Anak

Mak, seperti yang sudah pernah dibahas pada artikel sebelumnya bahwa diare bisa disebabkan oleh adanya infeksi kuman. Kuman yang dimaksud pun bermacam-macam, bisa disebabkan oleh serangan virus, bakteri atau parasit. Tanda dan gejala diare pada anak bisa berbeda-beda tergantung pada kuman jenis apa yang menginfeksinya.

Diare akibat virus

  1. Bentuk tinja encer seperti air
  2. Anak buang air besar menyemprot
  3. Seringkali disertai adanya mual dan muntah
  4. Demam tidak terlalu tinggi
  5. Anak kehilangan nafsu makan

Diare akibat bakteri

  1. Buang air besar tidak menyemprot
  2. Demam tinggi
  3. Jarang disertai mual dan muntah
  4. Bentuk dan warna tinja yang keluar berbeda tergantung bakteri yang menginfeksi. Diare yang disebabkan bakteri Eschericia colli membuat tinja encer berwarna kecoklatan, bakteri Vibrio cholera membuat tinja encer berwarna seperti air cucian beras, dan diare yang disebabkan bakteri Shigella membuat tinja encer dan mengandung lendir / darah.

Diare akibat parasit

  1. Demam tidak terlalu tinggi
  2. Bentuk tinja encer mengandung lendir dan darah

Pemberian ASI mengurangi resiko diare. Baca juga : 7 Langkah Agar Emak Berhasil Menyusui 

Kapan Diare Jadi Berbahaya ?

Komplikasi terberat dari diare pada anak adalah terjadinya dehidrasi atau kekurangan cairan. Bentuk tinja yang encer membuat banyaknya cairan tubuh serta elektrolit yang keluar bersamaan dengan tinja. Dalam kasus dehidrasi ringan/ sedang, anak biasanya akan terlihat lebih rewel, gelisah, tampak kehausan dan mata cekung. Sedangkan dalam kasus yang lebih berat, dehidrasi berat ditandai dengan anak yang tampak semakin lemah, ujung jari tangan dan kaki terasa dingin, mata cekung, malas minum, dan tidak buang air kecil lebih dari 6 jam.

Saat anak memperlihatkan tanda dan gejala dehidrasi ringan, teruslah berikan banyak cairan sebagai pengganti cairan tubuhnya yang hilang. Perbanyak berikan air putih, susu, air kelapa,jus buah, kuah sayur atau jenis cairan lainnya. Sedangkan untuk kasus anak yang sudah memperlihatkan tanda dan gejala dehidrasi berat, Mak langsung dan segera bawa anak ke dokter atau fasilitas kesehatan terdekat untuk diberikan penanganan lebih lanjut. Jangan menunda-nunda ya Mak, karena dehidrasi berat yang tidak tertangani dengan cepat dan tepat bisa membahayakan nyawa si kecil.

Bayi Malas Menyusu ? Baca : 5 Penyebab Bayi Malas Menyusu

Cara Mengatasi Diare Pada Anak

Saat diare mulai terjadi, Mak bisa melakukan penanganan di rumah dengan cara yang sederhana. Prinsip penyembuhan diare adalah mencegah terjadinya dehidrasi, jadi saat anak terkena diare perbanyaklah berikan cairan. Selain itu, ada beberapa hal yang bisa Mak lakukan untuk mempercepat proses pemulihan si kecil, misalnya :

  • Pemberian Oralit
    Oralit dalam bentuk kemasan bisa Mak dapatkan di apotik atau toko obat terdekat, atau bisa juga Mak buat oralit rumahan dengan cara yang sangat mudah. Oralit rumahan atau larutan gula garam bisa dibuat dengan cara memasukkan 1 sendok teh gula ditambah dengan 1 sendok teh garam, masukkan ke dalam 1 liter air putih.  Pemberian oralit, baik oralit kemasan ataupun oralit rumahan cukup diberikan satu gelas untuk anak usia diatas 1 tahun, sedangkan anak  usia dibawah 1 tahun cukup diberikan setengah gelas saja. Oralit sangat dianjurkan diberikan kepada anak yang terkena diare, karena berperan sangat penting dalam mengganti cairan dan elektrolit yang hilang pada tubuh
  • Pemberian Zinc. Zinc telah terbukti bisa mempersingkat lama diare dan keparahannya. Tidak hanya itu Mak, Zinc juga membantu mempercepat penyembuhan usus serta meningkatkan sistem kekebalan tubuh sehingga bisa melawan invasi kuman yang masuk ke dalam tubuh. Sebaiknya baca aturan pakai obat dengan baik untuk menentukan dosis yang tepat untuk diberikan kepada anak, sesuai berat badannya. Zinc diberikan selama 10 hari berturut-turut.
  • Lanjutkan pemberian ASI dan makanan. Masalah lain selain dehidrasi, diare juga menyebabkan gangguan nutrisi karena tidak terserapnya nutrisi dengan baik di usus. Agar tubuh bisa pulih dengan segera, maka anak harus tetap diberikan makanan. Jika anak masih diberikan ASI, maka ASI juga harus terus diberikan untuk membantu mengembalikan nutrisi yang hilang serta menguatkan kembali sistem kekebalan tubuh anak.

Ajarkan anak toilet training, baca : Tips Toilet Training Cepat dan Mudah

Kapan Harus Dibawa Ke Dokter

Jika Mak menemukan tanda dan gejala berikut ini, si Kecil harus segera dibawa ke dokter atau fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut ya..diantaranya :

  1. Anak mengeluarkan pup yang disertai dengan lendir dan atau darah
  2. Anak mengalami demam tinggi yang tidak juga menurun meskipun sudah diberikan obat penurun panas
  3. Anak hilang kesadaran
  4. Tangan dan kaki anak terasa dingin dan anak terlihat lemas
  5. Anak mengalami dehidrasi berat, yang tandanya sudah dijelaskan diatas.

 

Nah Mak itulah tanda dan gejala diare pada anak serta bagaimana cara yang tepat untuk mengatasinya. Segeralah berkonsultasi dengan dokter jika kondisi si kecil tidak mengalami perbaikan setelah dilakukan perawatan dirumah ya.

 

Categories
Kesehatan & Kecantikan

Mengenal Apa itu Diare Pada Anak

diare
diare pada anak

Si Kecil buang air besar berkali-kali dalam sehari ? Pasti bikin panik banget ya Mak..

Setiap anak pasti pernah mengalami diare, ada yang bisa pulih dalam waktu yang cepat tapi juga tidak sedikit yang harus menjalani rawat inap di rumah sakit untuk proses penyembuhan. Sebetulnya apa sih yang dimaksud dengan diare pada anak? Apa setiap buang air besar  berkali-kali bisa langsung dikatakan anak terkena diare?

Pola Buang Air Besar Pada Anak

Gini Mak, pola buang air besar pada anak memang berbeda-beda. Misalnya aja bayi baru lahir bisa pup lebih dari 5 kali dalam sehari dengan tinja yang berwarna kuning kehijauan kadang juga disertai dengan tinja yang berbentuk seperti biji. Kondisi yang berbeda juga bisa terjadi, apakah bayi diberikan ASI atau susu formula. Untuk bayi yang diberikan ASI saja, Mak tidak perlu khawatir kalau si kecil bisa pup berkali-kali dalam sehari. Hal ini disebabkan sifat laksatif atau pencahar yang terkandung dalam ASI yang  berfungsi untuk membersihkan usus si kecil. Selama bayi tetap kuat menyusu, tidak ada yang perlu dikhawatirkan ya Mak.

Nah, sedangkan untuk kasus bayi yang  diberikan susu formula, pup bayi lebih dari 5kali dalam sehari harus dipertimbangkan kemungkinan adanya ketidakcocokan susu tertentu dengan bayi. Cobalah berganti merk. Jika tidak ada perbaikan kondisi, mungkin si kecil mengalami alergi susu sapi sehingga alternatifnya bayi diberikan susu dari nabati misalnya susu kedelai yang memiliki kadar laktosa yang lebih sedikit.

Berbeda dengan bayi, pada anak yang berusia diatas 1 tahun biasanya sudah memiliki pola buang air besar yang lebih teratur, dengan frekuensi 1-2 kali dalam sehari. Konsistensi serta warna tinja biasanya sangat dipengaruhi oleh jenis makanan yang dikonsumsi anak.

Agar tidak panik saat si kecil demam, baca juga : Jangan Panik, Beginilah Cara Tepat Atasi Demam Anak

Kapan Anak Dikatakan Terkena Diare ?

Definisi diare menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) adalah buang air besar lebih dari 3x dalam sehari dengan konsistensi cair dan berlangsung kurang dari satu minggu. Nah, kuncinya untuk mendiagnosa diare atau bukan adalah anak pup lebih dari 3 kali dan berbentuk cair. Jadi, kalau anak pup 2-3 kali dalam sehari sedangkan konsistensinya lunak itu bukan diare ya Mak, mungkin jumlah makanan yang dikonsumsi terlalu banyak.

Meski terlihat sepele, jika tidak ditangani dengan baik dan segera diare bisa juga membahayakan lho Mak. Ada banyak kasus kematian anak disebabkan oleh diare, karena penanganan yang lambat. Komplikasi terberat dari diare pada anak adalah dehidrasi atau kekurangan cairan yang diakibatkan oleh kehilangan cairan tubuh dan elektrolit yang keluar bersamaan dengan tinja. Perlu lebih waspada, kalau Mak menemukan ada lendir atau darah yang bercampur dengan tinja. Ini bisa menjadi tanda adanya infeksi bakteri atau parasit dalam tubuh anak.

Diare paling sering menyerang anak dengan usia dibawah 2 tahun. Mengapa ? Karena direntang usia inilah kadar antibodi ibu pada tubuh anak sudah mengalami penurunan, kurangnya kekebalan tubuh bayi, dan dimulainya pemberian makanan tambahan yang memungkinkan masuknya kuman dan bakteri karena proses pengolahan makanan yang kurang sehat.

Supaya tepat waktu pemberian MP-ASI, Baca juga : 3 Alasan Kenapa MP-ASI Diberikan Saat Bayi Berusia 6 Bulan

Apa saja Penyebab Diare ?

Penyebab diare pada anak apa saja sih? Ada banyak sekali  yang memicu munculnya diare pada anak, diantaranya sebagai berikut :

  1. Susu formula. Pemberian susu formula yang terlalu dini bisa menjadi salah satu penyebabnya. Kenapa? Karena untuk mengolah susu formula diperlukan enzim khusus yang disebut dengna enzim laktase yang tugasnya untuk mencerna laktosa yang terdapat dalam susu formula. Akibatnya laktosa yang tidak bisa diseraop ini justru menyerap cairan yang terdapat dalam dinding usus ke dalam rongga  usus, sehingga terjadilah diare.
  2. Penggunaan botol susu. Botol susu yang tidak dibersihkan dengan baik bisa menjadi media masuknya kuman kedalam tubuh anak. Botol  harus dibersihkan dengan teratur ya Mak.
  3. Infeksi kuman (virus, bakteri dan parasit). Adanya infeksi yang menyerang tubuh sangat berkaitan dengan sistem kekebalan tubuh. Saat anak terserang diare, menunjukkan sistem kekebalan tubuhnya tidak bekerja dengan baik. Ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor, misalnya anak terlalu cepat disapih, anak menderita penyakit yang memungkinkan serangan kuman  masuk karena kekebalan tubuh sedang melemah, dan sebagainya.
  4. Tidak mencuci tangan setelah buang air besar atau membersihkan tinja. Mencuci tangan, cara termudah untuk menghalangi masuknya kuman ke dalam tubuh. Usahakan untuk selalu mencuci tangan terutama setelah buang air besar atau membersihkan tinja si kecil. Tangan yang tidak dibersihkan dengan baik, bisa jadi media berpindahnya kuman ke dalam tubuh si kecil.

 Jadi Mak gak perlu panik saat anak mengalami diare ya. Kenali penyebabnya supaya diare pada anak tidak terulang lagi.