Categories
Parenting

8 Kesalahan Kecil Orangtua Yang Membahayakan Anak (Part 3)

parenting2

Mak, kita lanjut lagi ya pembahasan tentang jenis kesalahan kecil orangtua yang membahayakan anak.

Baca Juga : 8 Kesalahan Kecil Orangtua Yang Membahayakan Anak (Part 1)

Kesalahan Keenam : Merasa menjadi orang yang paling benar

Mak, punya anak balita yang susah diingatkan? Tidak mau mendengar apa yang orangtua nya sampaikan? Tenang, itu hal yang wajar dan normal di alami anak di usia balita. Pada rentang usia 1-3tahun, egosentris anak akan muncul dengan sangat dominan. Inilah yang menyebabkan anak sulit untuk diubah dan diingatkan karena merasa dirinya paling benar. Meskipun sebetulnya ia salah, anak tetap tidak mau disalahkan.

Sifat anak yang merasa dirinya benar dan tidak pernah salah bisa semakin parah karena mendapatkan dukungan dari orangtua dan orang disekitarnya. Masih ingat apa yang biasa dikatakan orangtua saat, misalnya anak terjatuh, terbentur tembok, atau lainnya?

Duh, kasihan… apanya yang sakit sayang? Udah jangan nangis ya… batunya nakal ya, bikin adek jatuh…nih, sama mama dipukul batunya”

Alhasil, Mak pun langsung memukul batu di depan anak dan anakpun menghentikam tangisannya.

Tapi Mak, sadarkah jika hal ini meninggalkan kesan yang tidak baik bagi perkembangan anak. Secara tidak langsung kita mengajarjan anak bahwa ia tidak pernah bersalah. Orang lain ataau hal lain diluar dirinya lah yang salah. Dari contoh diatas misalnya, saat anak terjatuh Mak langsung menyalahkan batu di depan anak padahal yang membuat anak jatuh bukanlah batu melainkan anak yang tidak hati-hati.

Meskipun seharusnya egosentris ini hanya dialami anak saat usianya di bawah 5 tahun, tapi kenyataannya egosentris ini bisa terus berlanjut hingga dewasa. Kita, orangtua juga seringkali masih punya sifat egosentris dalam mendidik anak. Menganggap bahwa kitalah yang paling tahu dan paling benar. Jika Mak masih punya sifat ini, yuk segera ubah. Sikap orangtua yang selalu merasa benar dan paling tahu membuat komunikasi yang tidak efektif, sehingga anak tidak mau mendengarkan nasihat  yang orangtua nya sampaikan.

Baca juga : 8 Kesalahan Kecil Orangtua Yang Membahayakan Anak (Part 2)

Kesalahan Ketujuh : Memberi julukan yang tidak baik

Orangtua seringkali punya panggilan khusus kepada anaknya untuk memudahkan memanggil anak. Panggilan yang baik tentu baik juga untuk perkembangan anak, karena bisa menjadi energi positif untuk anak. Tapi sebaliknya jika julukan atau panggilan anak tidak tepat seperti si cengeng, si gendut, si bawel atau sebutan yang buruk lain justru bisa memberikan dampak negatif bagi perkembangan jiwa anak.

Meskipun kelihatannya sepele, tapi sebaikny hindari memberikan julukan yang tidak baik untuk anak ya Mak. Julukan yang jelek bisa membuat anak merasa minder, tidak disayangi, tidak percaya diri dan bahkan bisa membenci orang yang memanggilnya dengan julukan itu. Jadi mak, yuk hentikan memanggil anak dengan julukan yang jelek dengan alasan apapun. Gantilah dengan julukan yang lebih baik, agar julukan itu bisa jadi motivasi untuk anak.

Baca juga : 4 Kesalahan Orangtua Yang Berujung Buruknya Akhlak Anak

Kesalahan kedelapan : Membiarkan anak diasuh televisi

Kesalahan terakhir yang sering dilakukan orangtua adalah membiarkan anak berlama-lama di depan televisi. Mak, perlu kita sadari bahwa apa yang disajikan oleh televisi di jaman sekarang sebagian besar tidak ramah anak, banyak adegan yang tidak pantas untuk ditiru, kekerasan, kata-kata kasar serta informasi sampah lainnya yang tidak memberikan manfaat bagi anak. Meski begitu, kenyataannya masih banyak orangtua yang membiarkan anak nya asyik menghabiskan waktu berjam-jam di depan televisi, misalnya karena orangtuanya sibuk dengan berbagai urusan dirumah.

Menurut penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat didapatkan bahwa sebagian besar perilaku buruk yang diperlihatkan anak merupakan hasil peniruan dari apa yang dilihat oleh anak di media baik itu media elektronik maupun cetak. Saat kita membiarkan anak asyik didepan televisi, sama saja dengan mengalihkan tugas mengasuh dan mendidik kepada televisi.

Lalu apa yang harus dilakukan? Apakah anak harus dilarang sama sekali menonton televisi?

Beberapa pakar parenting memang menganjurkan agar anak tidak menonton televisi, namun jika belum bisa terlepas dari televisi maka orangtua harus selalu mendampingi anak saat menonton untuk memastikan bahwa apa yang ditonton memang layak dilihat oleh anak. Atau jika memang anak merupakan tipe pembelajar visual atau belajar dari apa yang dilihat, maka sebaiknya orangtua mengganti tayangan acara televisi dengan program pendidikan yang lebih mendidik, misalnya memutarkan film atau CD edukasi.

Nah itulah 8 kesalahan kecil orangtua yang  menbahayakan anak. Secara perlahan , mari kita perbaiki pola asuh dan cara interaksi kita sebagai orangtua dengan anak. Tentu dengan harapan agar anak bisa tumbuh dan berkembang dengan lebih baik.

 

Categories
Parenting

5 Cara Mendisiplinkan Anak Tanpa Kekerasan

5 Cara Mendisiplinkan Anak Tanpa Kekerasan

5 cara mendisiplinkan anak tanpa kekerasan, perlu diketahui oleh setiap orang tua. Meski disiplin memang sedikit identik dengan kekerasan, nyatanya hal ini dapat pula diwujudkan dengan kelemah lembutan. Hasilnya lebih baik dan tentunya akan disenangi oleh buah hati.

Disiplin Tidak Harus dengan Kekerasan

Mendisipinkan buah hati adalah bagian setiap orang tua. Tidak ada satu orang pun yang tidak mengajarkan disiplin pada anaknya. Tanpa disiplin tentunya kehidupan anak akan menjadi tidak karuan. Ketidak karuanan akan menimbulkan kebencian lingkungan pada si anak, sebab pada umumnya anak yang tidak disiplin maunya menang sendiri.

5 Cara Mendisiplinkan Anak Tanpa Kekerasan

Meski sifatnya adalah mengatur agar sesuatu sesuai dengan tempatnya, disiplin tidak harus diajarkan dengan kekerasan. Mungkin dalam militer kekerasan memiliki arti, sebab yang ditempa adalah manusia-manusia dewasa. Namun jika anak-anak yang diperlakukan dengan kekerasan demi alasan disiplin, bisa saja hasilnya akan bertolak belakang. Anak bisa berbalik menjadi sangat benci pada orang tua, dan lebih mencintai orang lain. Jika ini terjadi tentu efeknya buruk bagi orang tua dan anak juga.

Untuk menerapkan disiplin yang baik, berikut adalah 5 cara mendisiplinkan anak tanpa kekerasan:

1. Berikan Kasih Yang Tulus

Kasih sayang yang tulus diwujudkan dengan menerima anak secara realistis dan apa adanya. Penerimaan ini akan memberikan orang tua ukuran tepat pendidikan pada anak. Selalu pikirkan kepentingan anak saat ini dan masa yang akan datang. Anak yang diterima apa adanya juga memiliki kepercayaan diri yang lebih tinggi.

2. Kosekuen

Hal yang konsekuen selalu diperhatikan oleh anak. Orang tua yang teguh akan membuat anaknya terkesan dan lebih menghormati. Jangan pernah tidak konsekuen terhadap penerapan disiplin, sebab sekali pelanggaran akan diamati oleh anak. Tidak konsekuen akan membuat anak meremehkan orang tuanya.

3. Konsisten

Disiplin adalah masalah mental, sehingga perlu waktu lama untuk tertanam di dalam perilaku keseharian anak. Konsistensi akan membuat peraturan benar-benar melekat dan tidak dengan mudah dilepas oleh anak.

4. Kompak

Kedua orang tua harus membentuk tim yang solid. Tidak ada yang boleh membela anak jika salah satu memarahi atau menerapkan disiplin. Ketidak kompakan juga mempersulit penerapan disiplin.

5. Kompromi

Kompromi tentu tetap menjadi pertimbangan. Disiplin tetap bisa dilaksanakan dengan adanya kompromi. Anak juga akan merasa lebih nyaman dalam melaksanakan disiplin.

Kelima hal tersebut harus dilaksanakan secara simultan dengan penuh keikhlasan. Demikian 5 cara mendisiplinkan anak tanpa kekerasan. Semoga bermanfaat.

Baca juga: Rahasia Tampil Cantik Alami