Cara Saya Menjaga Imunitas dan Berbaur di Keramaian Setelah Pandemi Usai

Meski pandemi COVID-19 sudah dinyatakan usai, rasa was-was masih lumayan besar di benak saya. Kita sudah diperbolehkan untuk buka masker di ruang terbuka, tapi tetap harus menggunakan penutup hidung dan mulut di dalam ruangan. Pikiran saya sebagai orang awam, situasi belum sepenuhnya aman. 

Ketika pada akhirnya harus kembali bekerja di kantor, saya tetap menerapkan protokol kesehatan. Entah karena sudah terlanjur terbiasa, atau karena masih takut terserang virus, saya menggunakan masker baik di dalam maupun luar ruangan. Saya juga tetap membatasi interaksi dengan banyak orang, serta rutin mencuci tangan.

Tapi saya perhatikan, istri sepertinya bersikap tenang-tenang saja, bahkan membebaskan anak kami banyak beraktivitas di luar rumah. Ridwan, yang tahun depan akan masuk SMA, tidak segera pulang ke rumah ketika jam sekolah berakhir. Ia harus mengikuti sesi latihan Taekwondo terlebih dahulu, dan baru akan pulang pada sore hari. Sementara istri kembali sibuk dengan profesinya sebagai instruktur aerobik. 

Saya sempat jengkel da mengutarakan keberatan atas sikap istri yang cenderung menyepelekan protokol kesehatan. Tapi istri segera memberi penjelasan, baha sikap saya yang terlalu khawatir-lah yang justru akan melemahkan daya tahan tubuh. Ia mengaku tetap waspada, tapi menurutnya, aktivitas di luar ruangan tidak selalu berbahaya. Menurut istri, latihan fisik dan olahraga akan mendukung imunitas yang kuat. 

Pada awalnya saya tidak percaya dan cenderung skeptis dengan penjelasan istri. Tapi saya mulai sadar ketika sayalah yang justru terserang demam dan flu. Saya bahkan harus absen ngantor selama dua hari karena dikhawatirkan menyebarkan virus ke teman kantor yang lain. 

Ketika saya menjadi orang yang paling protektif dans etia menerapkan protokol kesehatan, mengapa justru saya yang terserang penyakit? Mengapa pula istri dan anak saya justru selalu sehat dan baik-baik saja? Istri merawat saya tanpa banyak kata. Ia memang selalu begitu, tak mau berposisi sebagai penceramah, kecuali jika diminta. 

Sebagai bagian dari upaya pengobatan, saya menjalani serangkaian tes imunologi untuk memastikan tidak ada gangguan dalam sistem kekebalan tubuh. Syukurlah, hasil tes menunjukkan bahwa tidak ada masalah apapun dalam sistem kekebalan tubuh saya. Tidak ada tanda-tanda alergi, ruam kulit, diare, atau demam yang berkelanjutan. Rupanya saya hanya sakit flu biasa, dan harus banyak beristirahat agar segera sembuh. 

tes imunologi

Istri kemudian mengeluarkan senjata andalannya, Redoxon. Multivitamin yang satu ini memang selalu siap sedia di rumah. Ia bahkan selalu menyuguhkannya untuk diminum seluruh anggota keluarga setelah sarapan pagi. Tapi saya kala itu selalu abai. Karena saya pikir, secangkir kopi lebih ampuh untuk membangkitkan semangat kerja. Istri hanya tersenyum getir sambil mengerutkan dahi melihat kelakuan saya yang menurutnya sangat konyol. 

Benar saja, Redoxon rupanya mempercepat masa pemulihan. Saya pun segera sadar, bahwa imunitas harus dimulai dari pikiran dan segala aktivitas yang serba positif. Saya juga akhirnya menurunkan gengsi, dan mendukung sikap istri yang ternyata lebih cerdas melindungi diri dan keluarga di situasi pasca pandemi. 

Kita tak pernah tahu, apa dan bagaimana virus dan bakteri akan hinggap dan menyerang tubuh. Tapi sistem imun yang kuat akan efektif melawan sehingga tubuh tetap sehat. Selain rutin minum Redoxon setiap hari, saya juga jadi lebih nurut dengan anjuran istri, agar mengurangi makanan siap saji, dan lebih banyak makan buah dan sayur.