Kebijakan Plastik Berbayar Inggris Untuk Menekan Sampah Plastik

0
16
kebijakan plastik berbayar
kebijakan plastik berbayar

Beberapa hari belakangan ini, sosial media sangat ramai diisi dengan pro kontra pemberlakukan kebijakan plastik berbayar yang dikeluarkan oleh pemerintah melalui Kementrian Lingkungan Hidup. Nah, Mak sendiri termasuk yang pro atau kontra nih dengan kebijakan baru pemerintah ini? Ok, sebelum ambil keputusan untuk pro atau kontra dengan kebijakan tersebut, baiknya kita mampir dulu ke Inggris, negara Eropa yang sudah lebih dulu menerapkan kebijakan ini ya.

Inggris, Memberlakukan Kebijakan Plastik Berbayar

Ya, setahun lalu Inggris sudah lebih dulu menerapkan kebijakan plastik berbayar ini. Tepat pada tanggal 05 Oktober 2015, otoritas resmi di Inggris memberlakukan kebijakan ini. Jika di Indonesia, tiap penggunaan plastik di toko ritel dikenakan sebesar 200 rupiah, di Inggris dikenakan biaya sebesar 5pence.

Baca juga : 9 Alasan Mengapa Harus Bawa Tas Belanja Sendiri

Rupanya kebijakan ini memberikan dampak yang langsung dirasakan oleh masyarakat setempat. Padahal Inggris sama halnya dengan negara maju lainnya sudah selangkah lebih maju dalam hal tata kelola sampah dan tingkat kesadaran masyarakat tentang menjaga lingkungan pun sudah lebih baik dibandingkan Indonesia. Sebelum kebijakan ini diterapkan biasanya masyarakat yang menggunakan tas kresek saat berbelanja akan memasukkan tumpukan kresek yang sudah tidak dipakai ke dalam rubbish bin untuk mengolah sampah plastik.

Semenjak penerapan kebijakan ini, masyarakat akhirnya dengan perlahan mulai beralih menggunakan tas belanja dari kain atau kanvas yang bisa digunakan berkali-kali. Apakah kebijakan ini lantas membuat masyarakat di Inggris jadi antipati terhadap plastik? Jawabnya tidak, karena plastik tetap digunakan untuk keperluan lainnya hanya saja penggunaannya jauh sudah berkurang secara signifikan.

Indonesia, Negara ke-2 Penyumbang Sampah Plastik Terbesar di Dunia

Siapa bilang Indonesia gak punya prestasi ? Ada lho Mak, tapi sayangnya bukan prestasi yang membanggakan ya. Dalam hal sampah, Indonesia menempati urutan ke 2 sebagai negara penyumbang sampah plastik terbesar di dunia dan urutan nomor wahid dalam skala Asia Tenggara. Mungkin bukan bangga kalau prestasi semacam ini ya Mak, tapi miris sekaligus sedih.

Kondisi seperti inilah yang akhirnya membuat kebijakan yang mengatur penggunaan plastik harus dikeluarkan. Meskipun terlambat dan masih dalam skala kecil, sepertinya kebijakan pemerintah ini haruslah kita dukung dan koreksi jika memang masih banyak kekurangan dalam hal penerapan dan sebagainya.

Baca juga : Benarkah Program Kantong Plastik Berbayar Kurang Efektif?

Isu tentang pengelolaan sampah memang sudah lama digaungkan oleh para pecinta lingkungan hidup di tanah air, tapi sayangnya pemahaman masyarakat tentang isu lingkungan masih sangat minim. Mungkin ini juga yang menjadi salah satu kendala saat kebijakan ini mulai dijalankan, tapi masih tetap saja ada yang menggunakan plastik kresek saat berbelanja.

Salah satu alasan dari masyarakat yang menolak kebijakan ini adalah masalah penarikan uang Rp, 200 kepada konsumen yang tetap menggunakan plastik untuk membawa pulang barang belanjaan adalah karena ketidakjelasan kemana uang itu akan diserahkan. Mungkin kita harus kembali pada Inggris untuk belajar bagaimana negara tersebut mengelola uang yang dibayarkan itu. Disana pemerintah memberikan keleluasan kepada setiap peritel/ supermarket setempat untuk bekerja sama dengan LSM dan kemudian memberikan dana itu untuk pengelolaan sampah. Nah yang perlu dilakukan memang adalah transparansi dana dan pengawasan masyarakat agar uang itu memang digunakan dengan tepat.

Baca juga : Ingat Kembali Esensi Kantong Plastik Berbayar

Jadi Mak baiknya jangan terlalu berlama-lama dengan pro kontra kebijakan ini. Kita kembalikan lagi saja pada esensi utama dari kebijakan plastik berbayar ini , yaitu mengurangi sampah plastik. Ya, kuncinya mengurangi bukan berarti anti plastik sama sekali karena masih banyak barang di sekitar kita yang memang hanya bisa dikemas menggunakan plastik dan belum ditemukan penggantinya yang lebih ramah lingkungan. Kita tentu ingin bumi tetap hijau dan lestari untuk anak cucu kita bukan? Yuk kita mulai sekarang juga dari hal yang remeh dengan membawa tas belanja sendiri dari rumah.


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here