8 Kesalahan Kecil Orangtua Yang Membahayakan Untuk Anak (Part 2)

0
3

tantrum

Hi, Mak…. Kita lanjutkan bahasan tentang 8 kesalahan kecil orangtua yang membahayakan untuk anak ya. Setelah sebelumnya dibahas 2 poin pertama kesalahan orangtua (part 1 Klik Disini ), sekarang kita akan bahas 3 poin lanjutannya ya dengan harapan tentu agar kesalahan kecil orangtua yang sering dilakukan tidak lagi terulang.

Kesalahan ketiga : Mudah takluk pada rengekan anak

Mak, yang perlu dipahami bahwa setiap manusia adalah makhluk yang unik karena punya karakter dan watak yang berbeda, begitu pula dengan anak. Ada anak yang berwatak lembut, namun ada juga anak yang berwatak keras. Masalah muncul ketika orangtua yang bersikap lembut harus berhadapan dengan si anak yang berwatak kasar. Sudah bisa ditebak bukan, siapa pemenangnya? Tentu anak, karena dalam posisi ini seringkali orangtua mengalah dan akhirnya menuruti segala apa yang diinginkan anak.

Salah satu jurus jitu yang dimiliki oleh anak adalah rengekan. Jurus itu biasanya dikeluarkan saat di tempat ramai, saat berkumpul dengan keluarga, saat kedatangan tamu di rumah atau di tempat-tempat ramai lainnya. Mengapa? karena di tempat seperti inilah anak memahami bahwa rengekannya seringkali berhasil. Dalam situasi seperti ini, orangtua harus bersikap tegas, konsisten dan pantang menyerah ketika menghadapi watak awak yang sedang temperamen.

Anak merengek atau yang lebih dikenal dengan istilah tantrum. Saat anak melancarkan aksi tantrumnya ini orangtua seringkali menyerah dan akhirnya menuruti apa yang diinginkan anak. Dengan alasan kasihan anak menangis, malu karena anak menangis di tempat umum, dan sebagainya. Padahal Mak, mengikuti kemauan anak saat merengek bisa memberikan dampak yang tidak baik lho. Setidaknya ada dua  dampak bahaya, yaitu anak belajar memaksakan keinginannya dan menganggap segala apa yang diinginkan harus dipenuhi, serta anak belajar mempermalukan orangtua, anak akan belajar bahwa orangtua akan selalu mengabulkan apapun yang diinginkan saat sedang berada di keramaian.

Lalu apa yang harus dilakukan? Jika memang Mak punya alasan kuat kenapa tidak memenuhi keinginan anak, sebaiknya sampaikan saja alasanannya dengan baik. Berikan ia pengertian, dan berkatalah jujur. Namun jika anak tetap tidak mengerti dan merengek, maka biarkan saja. Biarkan anak menangis, tunggulah sampai akhirnya tangisannya reda.

Kesalahan keempat : Menakut-nakuti Anak

Kesalahan kecil orangtua dalam proses mendidik anak berikutnya adalah menakut-nakuti anak. Mengancam atau menakut-nakuti biasanya menjadi senjata para orangtua saat menghadapi anak yang sedang menangis atau sulit diatur/dikendalikan. Misalnya dengan mengatakan

“Udah jangan nangis dong Dek, nanti ada pak Polisi datang lho !”

“Gosok giginya yuk, kalo gak mau nanti giginya dicabut sama dokter ya..!”

Dan masih banyak kata-kata ancaman lainnya yang bertujuan agar anak mau melakukan apa yang diinginkan orangtua. Sebetulnya sikap seperti itu menunjukkan kalau orangtua tidak sabar dalam memberikan pemahaman kepada anak. Karena Mak pada dasarnya anak bisa mengerti asalkan orangtua mampu sabar untuk menjelaskan kepada anak.

Dengan ancaman atau menakut-nakuti, memang anak akan segera berhenti menangis atau bisa diatur sesuai dengan keinginan namun jika dilakukan secara berulang kali tentu dampaknya bisa berbahaya.  Misalnya, anak bukan lagi melakukan sesuatu karena kesadarannya, namun lebih kepada takut pada ancaman dari orangtua. Selain itu, anak juga akan merasa ketakutan pada berbagai profesi yang selama ini menjadi objek ancaman, misalnya polisi, rumah sakit, dokter, dan sebagainya.

Jadi Mak, hindari ancaman dalam mendidik anak ya. Tambahkan kesabaran dan luangkan waktu lebih banyak untuk memberikan pemahaman pada si kecil tentang apa yang mestinya ia lakukan. Karena sesungguhnya makhluk mungil itu sudah dibekali kecerdasan oleh Tuhan dalam memahami segala hal.

Kesalahan kelima : Membandingkan anak dengan anak lain

Siapa yang tidak kesal kalau terus menerus dibandingkan?

Pasti Mak juga ngerasa kesel deh kalau dibanding-bandingkan suami sama tetangga. iya kan?

Nah begitu pula lah yang dirasakan anak. Saat Mak membanding-bandingkan dia dengan anak lain, apakah itu teman mainnya, teman sekolah atau bahkan saudara kandungnya, anak akan merasa sedih dan kesal.  Perilaku sering membandingkan anak juga bisa memberikan dampak yang tidak baik bagi perkembangan psikis anak ke depan. Misalnya anak menjadi tidak menyukai orangtuanya, merasa iri dan benci pada orang yang dibandingkan dengannya, anak akan kehilangan rasa percaya dirinya, dan lain sebagainya.

Mak, mungkin tujuan kita membandingkan anak supaya anak bisa belajar dan mencontoh perilaku anak lain yang lebih baik. Tapi apakah dengan cara itu bisa berhasil ? jawabannya tentu tidak. Bukannya membaik, perilaku anak justru akan semakin kasar dan sulit dikendalikan.

Maka dalam hal ini, Mak dan Ayah harus memahami bahwa setiap anak adalah makhluk yang unik. Setiap anak berbeda karena memiliki watak dan karakter masing-masing. Pantaulah anak, apakah ia mengalami perkembangan atau tidak. Jika belum, orangtua harus memberikan motivasi yang membangun dan menyemangati anak. Dan jika ia mengalami kemajuan, jangan sungkan untuk memberikan pujian atau bahkan hadiah. Jadi, hindari sebisa mungkin membandingkan anak ya Mak.

Nah, bagian kali ini yang membahas 3 poin kesalahan kecil orangtua yang membahayakan anak cukup dulu ya. Nantikan 3 poin lanjutan pada artikel berikutnya ya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here